Epistemologi Dakwah

 

A.    Latar Belakang
Dakwah pada mulanya dipahami sebagai perintah Allah yang tertuang dalam al-Qur’an. Bagi setiap muslim yang taat kepada Allah, maka perintah berdakwah itu wajib dilaksanakan. Ketika dakwah dilaksanakan dengan baik, lalu disadari bahwa dakwah itu merupakan suatu kebutuhan hidup manusia. Dan ketika dakwah disadari sebagai suatu kebutuhan hidup, maka dakwah pun menjadi suatu aktivitas setiap muslim kapan pun dan dimana pun mereka berada. Kemudian aktivitas dakwah pun berkembang dalam berbagai situasi dan kondisi dengan berbagai dinamikanya.

Dalam perkembangan terakhir di Indonesia, khususnya dalam lingkungan perguruan tinggi agama Islam, dakwah berkembang sebagai satu disiplin ilmu dan kedudukannya disejajarkan dengan disiplin ilmu Islam lainnya, seperti Filsafat, Tasawuf, Hadist dan disiplin ilmu lainnya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan Epistemologi Dakwah?
2.      Sebutkan dan jelaskan model-model Epistemologi Islam?
3.      Apa yang dimaksud dengan hakikat dakwah, dan apa tujuan berdakwah?

C.    Tujuan
Tujuan dari pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut:
  1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Epistemologi dakwah
  2. Untuk mengetahui model-model dalam Epistemologi Islam
  3. Untuk mengetahui tujuan manusia berdakwah dan hakikat berdakwah

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Kebenaran
Membicarakan filsafat memiliki cakupan luas, akan tetapi setidaknya terdapat tiga hal mendasar yang dianggap penting, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi terkait dengan pertanyaan what is (apakah hakikat sesuatu), epistemologi terkait dengan pertanyaan how to (bagaimanakah sesuatu terjadi), dan aksiologi terkait dengan what for (apakah kegunaan sesuatu).[1] Menurut Kattsoff, bahwa Ontologi dan Epistemologi merupakan hakikat kefilsafatan yang terdalam dan bagaimana mencari makna dan kebenaran. Sedangkan aksiologi berbicara mengenai masalah nilai dan atau etika dalam kaitannya dengan mencari kebahagiaan dan kedamaian bagi umat manusia.[2]

Yang menjadi persoalan adalah apakah sebenarnya yang dimaksud dengan kebenaran itu? Kebenaran adalah sesuatu yang bersifat subyektif, artinya pernyataan benar selalu terkait dengan bagaimana tanggapan orang terhadap sesuatu. Kebenaran menyangkut persoalan apakah orang mempercayai bahwa itu adalah sesuatu pernyataan yang benar. Sama halnya dengan kesalahan, yang juga terkait dengan bagaimana orang mempercayai bahwa itu adalah salah. Russel (1989) menyatakan bahwa kebenaran adalah suatu sifat dari kepercayaan dengan suatu fakta atau lebih di luar kepercayaan. Bila hubungan ini tidak ada, maka kepercayaan itu adalah salah. Suatu kalimat dinyatakan benar atau salah,jika kalimat itu dipercaya. Jadi benar atau salahnya kepercayaan itu tergantung pada masalahnya.[3]
Kattsof, menyatakan bahwa sesuatu dianggap benar apabila ia merupakan serangkaian dari kesesuaian antara proposisi yang berisi kandungan makna suatu pernyataan, yang tersusun dalam sebuah perkataan semantik dan terdapat ukuran kebenaran itu. Dengan demikian untuk mengetahui sesuatu itu salah atau benar sangat tergantung kepada pernyataan yang saling berhubungan yang terdapat kesamaan makna (konsisten), pernyataan tersebut merupakan kesesuaian antara simbol dan atau fakta dengan pernyataannya sendiri (korespondensi) dan terdapat ukuran untuk menyatakan sesuatu itu benar atau salah[4]

B.     Epistimologi Dakwah
Epistemologi dakwah adalah cabang filsafat yang secara khusus membahas teori ilmu pengetahuan. Pada dasarnya epistemologi adalah bahasa Yunani dan berasal dari dua kata yaitu, episteme yang berarti pengetahuan, ilmu pengetahuan, dan logos yang berarti teori, informasi. Dengan demikian dapat dikatakan, pengetahuan tentang pengetahuan atau teori pengetahuan. Dan dakwah secara bahasa, berasal dari padanan kata da’a- yuda’i- du’a’an wa da’watan. Dalam al-Qur’an istilah dakwah disebutkan kurang lebih sebanyak sepuluh kali dengan berbagai arti yang berbeda yaitu: ajakan, seruan, pembuktian dan do’a. Dalam makna sempit, dakwah berarti tugas untuk menyampaikan dan mengajarkan ajaran agama Islam agar nilai-nilai Islam terwujud dalam kehidupan manusia dan mengajak manusia kepada jalan yang diridhoi Allah[5]
Dari dua pengertian diatas maka dapat penulis simpulkan bahwa Epistemologi Dakwah adalah kajian filosofis terhadap sumber, metode, esensi, dan validitas (kebenaran ilmu) dakwah. Sumber menjelaskan asal-usul ilmu dakwah, sedangkan metode menguraikan bagaimana cara memperoleh ilmu tersebut dari sumbernya, dan validitas dakwah adalah pengetahuan yang diperoleh dari sumbernya melalui metode ilmiah, dan belum bisa disebut sebagai ilmu apabila belum terujI secara ilmiah atau tidak memiliki validitas ilmiah. Dalam menguji keilmuan ada dua teori yang dapat digunakan untuk menguji validitas suatu disiplin ilmu, yaitu teori koherensi dan teori korespondensi. Teori koherensi menyebutkan bahwa kebenaran ditegakkan atas hubungan keputusan baru dengan keputusan-keputusan yang telah diketahui dan diakui kebenarannya terlebih dahulu. Suatu proposisi dikatakan benar jika ia berhubungan dengan keberanian yang telah ada dalam pengalaman manusia.
Teori korespondensi menyatakan bahwa kebenaran atau keadaan benar itu merupakan kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan apa yang sungguh-sungguh merupakan halnya atau fakta-faktanya. Kebenaran adalah sesuatu yang bersesuaian dengan fakta, yang selaras dengan realitas, yang sesuai dengan situasi aktual.[6]Dari teori korespondensi dapat diketahui bahwa yang pertama ada pernyataan dan kedua ada kenyataan. Dengan demikian, kebenaran adalah kesesuaian antara pernyataan tentang sesuatu dengan kenyataan tentang sesuatu, misalnya di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya ada Progam Studi Psikologi, dan jika kenyataan bahwa di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya ada Progam Studi Psikologi (melalui observasi), maka terdapat kesesuaian antara pernyataan dengan kenyataan. Menrut Aristoteles, teori korespondensi disebut teori penggambaran, yang premisnya berbunyi “kebenaran adalah kesesuaian antara pikiran dengan kenyataan”.

C.    Model-model Epistemologi Islam
Dalam kajian pemikiran Islam terdapat juga beberapa aliran besar dalam kaitannya dengan teori pengetahuan (epistemologi). Setidaknya ada tiga model sistem berpikir dalam Islam, yakni: bayani, irfani, dan burhani, yang masing-masing mempunyai pandangan yang sangat berbeda tentang pengetahuan[7].
  1. Epistemologi Bayani
Adalah metode pemikiran khas Arab yang didasarkan atas otoritas teks(nash), secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung artinya memahami teks sebagai pengetahuan jadi dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran; secara tidak langsung berarti memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu tafsir dan penalaran. Meski demikian, hal ini bukan berarti akal atau rasio bisa bebas menentukan makna dan maksudnya, tetapi tetap harus bersandar pada teks.

  1. Epistemologi Irfani
Pengetahuan irfani tidak didasarkan atas teks seperti bayan, tetapi pada kasyf, terungkapnya rahasia-rahasia realitas oleh Tuhan. Oleh karena itu, pengetahuan irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa teks tetapi dengan olah ruhani, dimana dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Masuk dalam pikiran, dikonsep kemudian dikemukakan kepada orang lain secara logis. Dengan demikian pengetahuan irfani setdaknya diperoleh melalui tiga tahapan:
Ø  Tahap persiapan
Ø  Tahap penerimaan
Ø  Tahap pengungkapan, dengan lisan atau tulisan

  1. Epistemologi Burhani
Berbeda dengan bayani dan irfani yang masih berkaitan dengan teks suci, burhani sama sekali tidak mendasarkan diri pada teks. Burhani mendasarkan diri pada kekuatan rasio, akal, yang dilakukan lewat dalil-dalil logika.
Perbedaan ketiga epistemologi Islam ini adalah bayani menghasilkan pengetahuan lewat analogi furu’ dan pengetahuan bayani didasarkan atas teks suci; irfani menghasilkan pengetahuan lewat proses penyatuan ruhani pada Tuhan (intuisi); burhani menghasilkan pengetahuan lewat prinsip-prinsip logika atas pengetahuan sebelumnya yang telah diyakini kebenarannya (rasio). Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Untuk bayani, karena hanya mendasarkan diri pada teks, ia menjadi terfokus pada hal-hal yang bersifat aksidental bukan substansial, sehingga kurang bisa dinamis mengikuti perkembangan sejarah dan sosial masyarakat yang begitu cepat. Pada kenyataannya, pemikiran Islam pada saat ini masih banyak yang didominasi oleh pemikiran bayani fiqhiyah yang kurang bisa merespon dan mengimbangi perkembangan peradaban dunia. Dan burhani tidak mampu mengungkap seluruh kebenaran dan realitas yang mendasari semesta. Misalnya burhani tidak mampu menjelaskan seluruh eksistensi diluar pikiran seperti soal warna, bau, rasa, atau bayangan.
Jadi ketiga hal tersebut harus disatukan dalam sebuah pemahaman. Maksudnya ketiga model tersebut diikat dalam sebuah jalinan kerjasama untuk saling mendukung dan mengisi kekurangan masing-masing. Sehingga terciptalah Islam yang “Shalih li Kulli Zaman wa Makan”, Islam yang aktual dan kontekstual dalam semua tingkat peradaban.

D.    Hakikat Dakwah
Merujuk pada makna yang terkandung dalam al-Qur’an surat al-Nahl (16:125) yang berbunyi :[8]
Artinya : “serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Dakwah Islam dapat dirumuskan sebagai kewajiban muslim mukallaf untuk mengajak, menyeru dan memanggil orang yang berakal menjalani jalan Tuhan (dinul Islam) dengan cara hikmah, mauidhoh hasanah (motivasi positif), dan mujadalah yang ahsan (cara yang metodologis) dengan respon positif atau negatif dari orang yang berakal yang diajak, di sepanjang jalan dan sepanjang ruang.
Hakikat dakwah Islam tersebut adalah perilaku keislaman muslim yang melibatkan unsur da’i, maudhu’atau pesan, wasilah atau media, uslub atau metode, mad’u dan respon serta dimensi hal-maqom atau situasi dan kondisi.
Hakikat dakwah Islam menunjukkan bahwa terdapat tiga bentuk utama dalam proses mendakwahkan Islam, yaitu :.
1.      Melalui ahsanul qoul (bagusnya ucapan)
2.      Ahsanul ‘amal (bagusnya perbuatan);
3.      Keterpaduan bentuk ahsan qoul dan ahsan ‘amal (contoh yang baik)
Dari uraian yang sudah dikemukakan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Hakikat dakwah Islam adalah proses internalisasi (pendalaman/ penghayatan), transmisi (pemindahan), difusi (perpindahan), institusionalisasi dan transformasi dinul Islam dalam totalitas kehidupan manusia mukallaf guna mencapai tujuan hidup dunia dan akhirat.

E.     Kebutuhan Manusia Terhadap Dakwah
Ketika berada di alam arwah, manusia telah melakukan syahadah yang disebut dengan perjanjian Ketuhanan dan fitrah Allah (dinul Islam). Dengan demikian, manusia memiliki banyak kebutuhan dalam dirinya seperti kebutuhan dakwah (kebutuhan spiritual) yang diperlukan untuk mengaktualkan syahadah ilal Allah ke dalam kenyataan hidup manusia sebenarnya, seperti kebutuhan materialnya, baik itu makan dan minum, berpakaian ataupun seks. Dan kebutuhan yang bukan material, seperti kebutuhan rasa aman, bahagia, dihargai, dicintai dan lain-lain.

F.     Tujuan Dakwah
Dakwah adalah kewajiban bagi setiap umat Islam, untuk saling mengingatkan dan mengajak sesamanya dalam rangka menegakkan kebenaran (konteks iman/ teologis) dan kesabaran (konteks amal/sosiologis) dalam al-Qur’an surat al-Ashr ayat 3 yang berbunyi :

Artinya : “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.”
Oleh karena itu, mengapa umat Islam selanjutnya disebut sebagai warotsatul anbiya’ (pewaris para nabi). Nabi yang berasal dari kata naba-a yang bermakna penebar risalah Tuhan (kebenaran).
Tujuan dakah antara lain :
Ø  Tujuan dakwah bukan untuk memaksakan kehendak (Q.S Al- Baqaroh: 256),
Artinya : “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Ø Mengislamkan yang lain, maupun untuk mempersatukan umat manusia (Q.S 5: 48),
Artinya : “ Dan kami Telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang Telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang Telah kamu perselisihkan itu.”
Apalagi untuk memperbanyak pengikut. Jika dakwah berarti demikian, niscaya Nabi Nuh a.s yang diberi usia hingga 950 tahun dalam menggencarkan risalah dakwahnya tidak layak diberi penghargaan. Sebab, dalam kurun waktu yang sangat panjang itu beliau hanya mampu mengajak manusia seisi penumpang kapal laut. Akan tetapi, pada kenyataannya beliau tetap dianggap orang istimewa oleh Allah SWT. Yang tercantum dalam (Q. S 29: 14/71 : 5-28). Islam atau tidaknya seseorang bukanlah kepentingan Allah SWT. Konsekuensi dakwah bisa diterima atau ditolak. Urusan beiman atau tidaknya seseorang itu urusan Allah SWT. Tita tidak dibebani oleh Allah SWT untuk memaksa apalagi mengimankan seluruh manusia.

 Ø  Tugas kita hanyalah menyampaikan (tabligh; Q.S Yunus : 99)

Artinya : “Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?.”
Ø  Dan menjadi bukti kedamaian bagi yang lain (syuhada; Q.S Ali I’mron : 110).

Artinya : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”
Melalui Islam Allah SWT hanya memesankan kehidupan yang damai, tentram, dan penuh kemaslahatan. Hal ini sesuai dengan korelatifitas makna harfiah antara Islam dan rahmat yang berarti damai dan sejahtera.
Dakwah menurut Dr. Khalifa Husein (2001), tidak hanya berorientasi eksternal dalam mengajak umat lain pada kebenaran Islam, tetapi lebih berarti internalisasi perbaikan dan pendewasaan diri dalam tubuh umat Islam sendiri secara spiritual, moral, dan sosial.

BAB III
KESIMPULAN 

Kebenaran adalah sesuatu yang bersifat subyektif, artinya pernyataan benar selalu terkait dengan bagaimana tanggapan orang terhadap sesuatu. Kebenaran menyangkut persoalan apakah orang mempercayai bahwa itu adalah sesuatu pernyataan yang benar. Epistemologi Dakwah adalah kajian filosofis terhadap sumber, metode, esensi, dan validitas (kebenaran ilmu) dakwah.
Dalam kajian pemikiran Islam terdapat juga beberapa aliran besar dalam kaitannya dengan teori pengetahuan (epistemologi). Setidaknya ada tiga model sistem berpikir dalam Islam, yakni: bayani, irfani, dan burhani, yang masing-masing mempunyai pandangan yang sangat berbeda tentang pengetahuan. diperlukan untuk mengaktualkan syahadah ilal Allah ke dalam kenyataan hidup manusia sebenarnya, seperti kebutuhan materialnya, baik itu makan dan minum, berpakaian ataupun seks. Dan kebutuhan yang bukan material, seperti kebutuhan rasa aman, bahagia, dihargai, dicintai dan lain-lain.
Dakwah adalah kewajiban bagi setiap umat Islam, untuk saling mengingatkan dan mengajak sesamanya dalam rangka menegakkan kebenaran (konteks iman/ teologis) dan kesabaran (konteks amal/sosiologis).
PENULIS: RIDWAN HADI P.


  
DAFTAR PUSTAKA

Ø  Syam, Nur. 2003. Filsafat Dakwah, Surabaya: Jenggala Pustaka Utama.
Ø  http//epistemologi-dan-ontologi-dakwah (online) diakses pada tanggal 12 juni 2011
Ø  http://forum35.wordpress.com/2007/01/03/relevansi-dakwah-dan-toleransi-beragama/ (online) diakses pada tanggal 10 juni 2011
Ø  Kattsoff, Louis O. 1992. Pengantar Filsafat, Jogjakarta: Tiara Wacana.
Ø  http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/6602110.pdf





[1] Nur Syam, Filsafat Dakwah (Surabaya : Jenggala Pustaka Utama, 2003) hlm. 67
[2] Louis O Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta : Tiara Wacana, 1992) hlm. 163
[3] Astrid Susanto, Filsafat Komunikasi, (Bandung: Bina Cipta, 1989), hlm 76
[4] Ibid, Louis O Kattsoff, hlm 177-189
[5] http://forum35.wordpress.com/2007/01/03/relevansi-dakwah-dan-toleransi-beragama/(online) diakses pada tanggal 10 juni
[6] Nur Syam, Filsafat Dakwah, (Surabaya:)hlm. 69
[7] http://epistemologi-dan-ontologi-dakwah(online) diakses pada tanggal 12 juni 2011
[8] http://epistemologi-dan-ontologi-dakwah (online) diakses pada tanggal 12 juni 
Epistemologi Dakwah 4.5 5 suka tidur A.     Latar Belakang Dakwah pada mulanya dipahami sebagai perintah Allah yang tertuang dalam al-Qur’an. Bagi setiap muslim yang taat kep...


No comments:

Post a Comment

Kami memberikan kebebasan untuk mengutip sebagian artikel di situs ini (tidak seluruhnya) untuk dimuat di situs anda dengan menyebutkan Link dan sumber halaman. apabilah ditemukan Copy paste tanpa menyebutkan sumbernya maka dengan sangat terpaksa kami akan melakukan komplain DMCA Google. Harap dimaklumi.

Copy paste untuk disimpan di komputer (tidak untuk dipublikasikan di situs lain) diperbolehkan tanpa izin terlebih dahulu.Jika ada artikel atau gambar yang menyinggung, atau di bawah Hak Cipta Anda maka sihlakan tinggalkan komentar d postingan ini (Disclaimer) atau sms langsung ke 085298362132 untuk ditindaklanjuti.